Senin, 03 Agustus 2020

Siroh Nabawiyah / Kisah Rasulullah Bag. 50

بسم الله الرحمن الرحيم 

Siroh Nabawiyah

*KISAH ROSULULLOH ﷺ*

*Bagian 50*🤲🏻🕋🤲🏻

*اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنامُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سيدنا مُحَمد*

*Kenangan akan Khodijah*

Kenangan akan Khodijah tetap hidup di hati Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam sampai beliau wafat. Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam ingat pernikahan mereka yang penuh berkah. Itulah satu-satunya pernikahan di dunia ini yang dipenuhi berkah surga dan dunia sekaligus. 

Saat pernikahan itu, Khodijah mengadakan jamuan buat semua orang, mulai dari yang paling kaya sampai yang paling miskin. Bangsa Arab yang saat itu hanya mengenal air putih, dalam walimah pernikahan Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam dan Khodijah, disuguhi minuman segar sari buah dan sirup mawar.

Selama beberapa hari, semua orang, baik tua maupun muda, makan di rumah Khodijah. Kepada orang-orang miskin, Khadijah memberikan beberapa keping uang emas dan perak serta pakaian. Kepada para janda, Khodijah menyumbangkan kebutuhan hidup yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam juga terkenang saat setelah menikah, Khodijah tidak lagi tertarik pada perdagangan serta kesuksesan yang diraihnya. Pernikahan telah mengganti perhatian Khodijah. Beliau telah mendapatkan Nabi Muhammad Al Musthafa sebagai hartanya yang paling berharga di dunia ini. Begitu Khodijah menjadi istri Rasulullah semua perak, emas, dan berlian kehilangan harga di matanya. Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam menjadi satu-satunya yang Khadijah sayangi, perhatikan, dan cintai. Beliau mengabdikan diri  sepenuhnya pada kehidupan Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam.

Saat-saat didampingi Khadijah boleh dikatakan merupakan sat-saat yang sangat membahagiakan Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam. Dari rahim Khodijah-lah lahir tiga orang putra dan empat orang putri Rasulullah, termasuk puteri terkecil mereka Fatimah Az Zahra, yang menjadi cahaya mata ayahnya.

Tidak ada laki-laki lain yang cocok mendampingi Khadijah selain Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam. Begitu serasinya mereka sampai ada ahli sejarah yang menduga bahwa  seandainya Khodijah tidak bertemu Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam dalam hidupnya, kemungkinan besar Khadijah tidak akan menikah sampai akhir hidupnya, karena bukanlah kekayaan, ketampanan, dan keturunan yang menarik hati Khodijah, melainkan keluhuran budi yang mampu meluluhkan hatinya. Itulah yang ada dalam diri Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam.


*Rumah di Surga*

Dalam Shahih Al Bukhlri, Abu Hurairoh berkata, Jibril mendatangi rumah Rasulullah seraya berkata, "Wahai Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam, inilah yang datang Khadijah sambil membawa bejana yang di dalamnya ada lauk atau makanan atau minuman. Jika ia datang, sampaikan salam padanya dari Rabb-nya dan sampaikan kabar kepadanya tentang sebuah rumah di Surga yang di dalamnya tidak ada hiruk-pikuk dan keletihan."


*Khodijah Wanita Sempurna*

Sebelum kedatangan Islam, Khadijah dijuluki Ratu Mekah. Namun, ketika cahaya Islam terbit, Allah memberi beliau kedudukan sebagai ibu kaum beriman *(ummulmukminin)*. Saat itu, sebagian kaum Muslimin adalah orang-orang miskin. Mereka tidak bisa mencari nafkah, karena orang-orang kafirlah yang menguasai perdagangan. Orang-orang itu tidak memberikan kesempatan bagi kaum Muslimin untuk bekerja. Pada saat itu, kaum Muslimin bisa terhindar dari kelaparan berkat bantuan Khodijah.

Khodijah juga memberi mereka tempat tinggal. Khodijah menggunakan begitu banyak uangnya untuk orang-orang Muslim di Mekah yang miskin akibat boikot orang-orang musyrik. Pertolongan Khodijah telah mematahkan tujuan orang-orang musyrik untuk menarik para pengikut Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam yang miskin pada kekafiran lagi.

Khodijah tidak pernah menyisakan sampai uang terakhir yang dimilikinya demi kesejahteraan para pemeluk Islam. Cinta Khodijah kepada mereka tidak berbeda dengan cinta ibu kepada anaknya. Kalian tahu, seorang ibu rela mengorbankan nyawanya sendiri demi keselamatan anak-anaknya. Seorang ibu bisa merasakan lapar, namun jika anak-anaknya kelaparan, ia akan mengutamakan anak-anaknya lebih dulu. Ia akan memberikan jatah makannya untuk anak-anaknya dan rela menahan lapar. Bahkan jika anak-anaknya merasa kenyang dan senang, itu sudah cukup membuat seorang ibu juga merasa senang dan kenyang sehingga ia lupa rasa lapar yang dideritanya sendiri. Cinta seorang ibu tidak mengenal syarat. Cinta seorang ibu penuh perlindungan dan penuh kasih.

Dengan keluhuran budi istrinya yang begitu agung sangat wajar jika Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam merasa amat berduka ketika Khodijah wafat.


*Rosululloh Amat Mencintai Khodijah*

Begitu besarnya cinta Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam kepada Khadijah sampai beliau bersabda, "Demi Alloh! Allah tidak menggantikan Khodijah dengan seorang yang lebih baik. Ia telah beriman kepadaku pada saat orang-orang mengingkari risalahku. Ia percaya kepadaku pada saat orang-orang nendustaiku. Ia telah mengorbankan hartanya padahal orang lain tidak mau melakukannya, dan Alloh telah melimpahkan karunia bagiku anak-anak melalui Khadijah.


*Setelah Abu Tholib Tiada*

Ketika ibunya wafat, Fatimah Az Zahra baru berusia tiga tahun. Anak perempuan yang matanya masih basah karena baru kehilangan ibunya itu kini melihat ayahnya dihina orang sejadi-jadinya. Para tetangga mereka seperti Hakam bin Ash, Uqbah bin Abu Muith, Adi bin Hamra, dan Abu Lahab sangat sering melempar batu ketika ayahnya sedang shalat. Bahkan tidak cuma batu, tetapi juga jeroan kambing. Jeroan kambing itu pernah mereka melemparkan ke dalam panci masakan Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam yang siap disajikan.

Kejadian paling ringan yang pernah menimpa Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam adalah ketika seorang Quraisy pandir mencegatnya di jalan dan secara tiba-tiba menyiramkan tanah ke atas kepala beliau. Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallamtidak membalas hinaan itu. Beliau pulang ke rumah dengan kepala yang penuh tanah.

Di rumah, Fatimah membersihkan kepala ayahnya sambil menangis.

Tidak ada yang lebih pilu rasanya hati seorang ayah dibanding mendengar tangis anaknya. Apalagi yang menangis ini adalah anak perempuan yang baru saja ditinggal mati ibunya. Hampir kaku rasanya Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam karena begitu pilu, bahkan beliau hampir saja ikut menangis.

Nabi Muhammad Sollallohu'Alaihi wasallam adalah ayah yang bijaksana dan penuh kasih sayang pada putri-putrinya. Tak ada lagi yang beliau lakukan menghadapi tangis pilu putrinya selain memohon pertolongan kepada Alloh dengan keimanan sepenuh hati.

"Jangan menangis, putriku," begitu yang Rosululloh bisikkan kepada Fatimah sambil menghapus air matanya, 
"sesungguhnya Alloh akan melindungi ayahmu." 

Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam kemudian berkata, 
"Sebelum wafat Abu Tholib, orang-orang Quraisy itu tidak seberapa menggangguku."

Apa yang kemudian beliau lakukan untuk melepaskan diri dari tekanan Quraisy yang semakin menjadi-jadi?

Bersambung

-

Tidak ada komentar: