بسم الله الرحمن الرحيم
🕋 *KISAH ROSULULLOH**ﷺ 🕋
*Bagian 41*🤲🏻🕋🤲🏻
*اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سيدنا مُحَمد*
*Berdakwah Terang-Terangan*
Keesokan harinya, Umar mengingat-ingat siapa yang paling keras memusuhi Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam. Jawabannya pun langsung ditemukan, "Abu Jahal!" Tanpa membuang waktu, Umar pergi mengetuk pintu rumah Abu Jahal. Abu Jahal keluar dan menyambut Umar,
"Selamat datang, wahai kemenakanku! Kabar apakah gerangan yang engkau bawa?"
"Aku datang untuk memberitahukan kepadamu bahwa aku telah memercayai ajaran-ajaran Nabi Muhammad Sollallohu'Alaihi wasallam!"
Wajah Abu Jahal pucat. Sambil membanting pintu, ia berseru lantang,
"Mudah-mudahan tuhan mengutukmu. Alangkah buruknya kabar yang engkau bawa!"
Tidak berhenti sampai disitu, di sepanjang jalan, Umar memberi tahu setiap orang bahwa ia telah memeluk Islam.
Setelah itu, Umar pergi ke Ka'bah dan mengumumkan keislamannya. Rasa takut bercampur benci semakin membengkak di hati orang-orang Quraisy yang masih kafir.
Setelah masuk Islam, Umar bertanya,
"Wahai Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam, bukankah kita berada di atas kebenaran mati maupun hidup?"
Ketika Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam membenarkannya dengan tegas, Umar meminta agar Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam dan kaum Muslimin keluar secara terang-terangan. Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam menyetujui hal itu. Beliau dan umatnya pun keluar ke jalan-jalan Kota Mekah dalam dua barisan menuju Masjidil Haram. Barisan sebelah kanan Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam dipimpin oleh Hamzah dan barisan di sebelah kiri dipimpin oleh Umar bin Khottob.
Sejak itulah Umar digelari Al Faruq (sang pembeda kebenaran dan kebatilan).
*Islam Mengajarkan Kebaikan*
Islam kemudian menjadi bahan diskusi hangat di Kota Mekah. Mereka yang penasaran terus bertanya kepada temannya yang Muslim. Sementara itu, mereka yang benci tidak henti-hentinya menjelekkan agama ini.
"Apa yang diajarkan agama baru ini? Katakan kepadaku, Sobat. Biar aku paham mengapa kamu begitu mudah meninggalkan agama nenek moyang kita," kata seseorang kepada sahabatnya.
"Engkau tahu bahwa hidupku sangat sulit," jawab teman Muslimnya,
"setiap kali kulihat orang-orang kaya mengendarai kuda-kuda istimewa, mengenakan pakaian mewah, dan memasuki rumah megah, aku jadi bertanya, untuk apa sebenarnya Tuhan menciptakan aku ini? Aku tidak bisa menikmati hidup kecuali bekerja keras untuk makan sehari-hari. Aku tidak tahu setelah aku mati akan ke mana aku pergi. Sungguh sulit rasanya menjadi orang yang berharga dan mulia."
Sang muslim menoleh dan melihat wajah temannya itu tampak bersungguh-sungguh.
"Namun kemudian, Islam datang dan mengajarkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada tumpukan emas dan perak kita, akan tetapi pada sebanyak apa kebaikan yang telah kita buat. Islam tidak melarang perdagangan dan orang menjadi kaya, tetapi Islam mengajarkan bahwa nilai cinta kasih, persaudaraan, tolong-menolong, dan kebersamaan berada jauh di atas nilai setumpuk harta.
Tahukah engkau, setelah datangnya Islam, aku merasa menjadi yang lebih berarti daripada sebelumnya."
Sang teman mengangguk-angguk.
"Lebih dari itu," lanjut si Muslim,
"Islam mengenalkan aku kepada siapa sebenarnya Pencipta alam yang patut disembah: bukan berhala yang tidak bisa apa-apa, melainkan Alloh.
Melalui Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam, Alloh menurunkan perkataan-Nya buat kita. Coba dengarkan beberapa ayat berikut ini. Engkau akan tahu bahwa tidak seorang penyair pun yang mampu menandingi keindahan bahasanya apalagi kebenaran isinya."
Kemudian, beberapa ayat Al Qur'an mengalun dari mulut si Muslim dan langsung menembus hati temannya yang kini kian larut dan kian dekat pada kebenaran.
*Kesaksian Musuh*
Bahkan para musuh Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam pun tidak dapat mengingkari kejujuran Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam.
Tirmidzi meriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib bahwa Abu Jahal pernah berkata kepada Rosululloh Sollallohu'Alaihi wasallam,
"Sesungguhnya kami tidak mendustakanmu, tapi kami mendustakan apa yang engkau bawa."
*Utusan Quraisy*
Apa yang terjadi dengan Muslim yang berhijrah ke Habasyah.
"Kita tidak bisa membiarkan mereka berlindung di Habasyah!" Seru seseorang pembesar Quraisy.
"Dengan perlindungan yang diberikan Raja Najasyi, aku khawatir mereka akan bertambah kuat dan membahayakan kita!"
"Kirim utusan kepada Najasyi!" Sambut pembesar yang lain,
"bujuk dia, katakan apa saja agar dia memulangkan para pengikut Muhammad itu!"
Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'ah diutus menemui Raja Habasyah, Najasyi. Tiba di Habasyah, mereka mempersembahkan hadiah-hadiah berharga untuk raja dan para pembesarnya.
"Paduka Raja," kata mereka, "kaum Muslim yang datang ke negeri Paduka ini adalah budak-budak kami yang tidak punya malu. Mereka meninggalkan agama bangsanya dan tidak pula menganut agama Paduka. Mereka membawa agama yang mereka ciptakan sendiri yang tidak kami kenal dan tidak juga Paduka kenal. Kami diutus kepada Paduka oleh pemimpin-pemimpin masyarakat mereka, oleh orangtua-orangtua mereka, paman mereka, dan keluarga mereka sendiri, agar Paduka sudi mengembalikan orang-orang itu kepada kami. Kami lebih mengetahui betapa orang-orang itu mencemarkan dan memaki-maki tuhan-tuhan kami.
Sebenarnya, kedua utusan tersebut telah menyogok para pembesar istana untuk membantu meyakinkan raja. Namun, Najasyi adalah raja yang bijaksana. Dia sama sekali tidak terpengaruh hadiah-hadiah yang dibawa kedua utusan Quraisyi. Dia tidak mau mengusir kaum Muslimin kembali sebelum ia mendengar sendiri apa alasan mereka pergi meninggalkan Mekah.
"Bawa para pengungsi itu ke hadapanku!" perintah Najasyi.
Seluruh kaum Muslimin menghadap, Raja bertanya, Agama apa ini yang sampai membuat Tuan-Tuan meninggalkan masyarakat Tuan sendiri, tetapi tidak juga Tuan-Tuan menganut agamaku atau agama lain?"
*_Barokalloohu lanaa walakum....._*
*Bersambung*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar